04 Juni 2008

Lancarnya MTQ Buah Kerja Keras Pihak Keamanan

Borneo Tribune, Lancarnya pelaksanaan MTQ XXII Kalimantan Barat di Kota Singkawang tidak terlepas dari patisipasi pihak keamanan, baik dari kepolisian, Pol PP, Dinas perhubungan, atau organisas-organisasi ikut andil. Besarnya partisipasi dari pihak kemanan itu diungkapkan langsung ketua LPQ Kota Singkawang, H. M. Nadjib saat ditemui di ruang media center beberapa MTQ XXII beberpa hari yang lalu.

”Kita tidak bekerja sendirian, kita adalah tim, pihak keamana meruapakan bagian dari tim, untuk itu sukses dan tidaknya MTQ di Kota Singkawang dikarenakan kerja dan partisipasi yang besar dari pihak keamanan,” kata Nadjib menegaskan.

Sebelumnya, Kapolres Kota Singkawang, AKBP. Parimin Warsito mengatakan kemanan selama pelaksanaan MTQ meruapakan tanggung jawab yang besar bagi institusinya. Karena fakor tersebut, pihaknya mengerahkan tiga ratus enam puluh personil untuk pengamanan.
”Untuk pengamanan tersebut kita melibatkan pihak perhubungan dan polisi pamong praja,” kata Parimin menambahkan saat ditemui di Kridasana.

Mengulas kinerja pihak keamanan, pada saat-saat MTQ tersebut, pia keamanan menjaga beberapa titik yang dijadikan sebagai pusat kegiatan. Seperti di lapangan olah raga Kridsana, Masjid Agung Nurul Islam Kota Singkawang, GOR Bantilan, Masjid pondok Pesantren Usshuluddin dan Aula. Selain itu pihak kepolisian juga memperketat pengamanan di lokasi-lokasi penginapan.

”Pengamanan itu kita lakukan untuk menjaga ketertiban dan mengantisifasi kejadian yang sewaktu-sewaktu dapat terjadi,” ujar Parimin.

Hal yang terpeting yang juga menjadi pusat perhatian pihak keamanan adalah lancarnya jalan lalu lintas selama kegiatan MTQ digelar di Kota Singkawang. beberapa persiapng dijaga dengan tujuan agar tidak terjadi kecelakaan antara pejalan akai, antara kendaraan, atapun lain sebagainya. Karena diyakini, setiap ada pergerakan massa pada suatu tempat maka peluang kemacetan akan semakin tinggi.

Parimin menuturkan, dari pengalamn selama ini, selain masalah teknis, kemacetan tersebut sering terjadi karena kapasitas jalan tidak memadai kemudian tidak mampu menampung arus lalulintas serta karena adanya peneyempitan jalan, seperti adanya pengerjaan jembatan dan jalan yang belum selesai. Kemacetan jalan juga dikarenakan adanya pasar tumpah ataupun kegiatan masyarakat lainnya.

Menurut Parimin, deng kerj maksimal yang dilakukan pihak keamanan, kondisi Kota Singkawang selama dalam pelaksanaan MTQ berjalan tertib, lancar, dan amanan.
Kata Parimin, amannya Kota Singkawang pada saat pelaksanaan MTQ juga tidak terlepas dari partisipasi masyarakat. Untuk itu ia mersa sangat berterimakasih, sekaligus mohon maaf atai kekuarangan selama gawe besar itu dilaksanakan. (Mujidi, Borneo Tribune)

Pameran MTQ XXII Ditutup, Omset Penjualan Capai 1,08 M

Borneo Tribune, Stand Pameran MTQ XXII, Sabtu (31/05) ditutup seiring dengan ditutupnya pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Pameran yang dimulai pada, Sabtu (24/50 pekan lalu itu dikunjungi delapan ribu orang, dengan omset penjualan mencapai 1, 08 miliar. Daam pameran tersebut beragam produk dari berbagai Kabupaten Kota erta pengusaha sewasta berkumpul di pangan Kridasana mencari nafkah. Atas kerja pantian dan partisipasi masyarakat, kegiatan tersebut berjalan lancar.

Dalam acara yang dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, Cornelis, Mh, Bupati dan Walikota se Kalimantan Barat, Walikota Singkawang , Hasan Karman, mengatakan kegiatan MTQ yang diselingi dengan pameran itu merupakan suatu kenangan, sekaligus sebagai sejarah dan catatan pengalaman untuk Kota Singkawang.

”Dengan rentang waktu yang sedemikian panjang, dan dengan hitungan diperkirakan pelaksanaan MTQ di Kota Singkawang akan terjadi pada 42 tahun kemudian. Untuk itu moment MTQ XXII ini sangat penting dan strategis dalam menberikan warna proses penyelenggaraan pemerintah maupun kehidupan bermasyarakat di Kota Singkawang,” ungkap Hasan seraya mengatakan semangat nilai-nilai hakiki dari MTQ itu perlu terus dihidupkan.

“Secara substansi keinginan ini terkesan ideal dan sangat normative, namun kita akui factor fundamental harus tersentuh dan diwujudkan, sehingga semua pengorbanan yang telah kita berikan baik material maupun inmaterial dari setiap event yang dilakukan sebanding dengan nilai manfaat yang diperoleh,” ungkapnya.

Dikatakannya, melalui moment MTQ ini selain upaya untuk memimilih delegasi kita yang akan tampil pada MTQ tingkat nasional di Banten, tentunya kita berharap melalui MTQ XXII dapat membangun dan mengembangkan nilai-nilai sebagaimana yang telah disampaikannya.
Bagi pemerintah dan masyarakat Kota Singkawang, MTQ XXII merupakan pengalaman pertama sebagai tuan rumah untuk event setingkat provinsi, sehingga dengan pengalaman ini dirinya selaku pribadi percaya bahwa banyak kelemahan yang terjadi pada MTQ ini, baik dalam penyelenggaraan musabaqah, penyediaan akomodasi, konsumsi dan laian-laian yang diperlukan dalam menunjang pelaksanaan MTQ.

Tidak lupa pula, dirinya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kota Singkawang yang turut menyukseskan kegiatan ini. Secara khusus dirinya juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada bapak Drs. H. Awang Ishak, MSi, dan bapak Drs. Raymundus Sailan, MSi mantan Walikota dan Wakil Walikota Singkawang yang telah berhasil meletakkan pondasi penyelenggaraan MTQ XXII Tingkat Kalbar di Kota Singkawang ini, sehingga penyelenggaraan kegiatan MTQ ini berjalan dengan penuh kesuksesan.


Dikatakan Hasan, bahwa dirinya atas nama Pemerintahan Kota Singkawang, serta atas nama masyarakat mengucapkan terima kasih kepada pemerintahan Kabupaten/Kota yang ada di Kalbar yang telah menyukseskan kegiatan ini dengan mengirimkan kafilah-kafilahnya untuk bertanding dalam kegiatan MTQ ini. (Mujidi, Borneo Tribune)

LPTQ Singkawang Kalbar Kawal Peserta ke Tingkat Nasional

Borneo Tribune, LPTQ Kota Singkawang menyatakan siap untuk menggiring dan mengawal peserta dari Kota singkawang yang meraih terbaik satu di tingkat nasional di Kota Banten Provinsi Riau. Penegasan itu disampaikan ketua LPTQ Kota Singkawang, HM. Nadjib pada wartawan di ruang media center, Sabtu (31/5) malam kemarin.

”Kita akan mengawal terbaik dari kita untuk mengikuti perlombaan MTQ pada tingkat nasional,” demikian ditegaskan Nadjib.

Dengan terbuka pria ini menyatakan tidak berkeinginan apabila peserta dari Kotanya digantingan dengan peserta dari daerah lain. Terlebih, sesuai dengan fakta yang ada orang yang meraih terbaik satu tersebut masih berkemampuan untuk melanjutkan prestasi pada tingkat nasional.
”Karena dasar tersebut kita bertekad untuk terus menggiring peserta ke nasional, dan jangan sampaikan digantikan orang lain,” kata Nadjib kembali mempertegas.

Dalam kesempatan tersebut, Nabjib menyatakan rasa terima kasihnya kepada seluruh masyarakat Kota Singkawang. Karena degan doa restu dan dukungan asyarakat tersebut, pelaksanaan MTQ dapat berjalan lancar dan mendulang kesuksesan.

Nadjib mengulang, sebagai penyelenggaran MTQ XXII di Kota Singkawang, persiapan-persiapan mulai gencar dilakukan selama sepuluh bulan. Dengan persiapan tersebut pantia bertekad untuk mencapai tiga kesuksesan. Tiga kesuksesan itu diantaranya, sukses sebagai tuan rumah, sukses sebagai penyelenggaran, dan sukses dalam meraih prestasi.

Sebagai tuan rumah dan pneyelanggara, kata Nadjib, dari awal pantian telah bertekad untuk memeberikan pelayanan yang terbaik pada seluruh tamu kafilah yang datang ke singkawang. Alhasil, tekad tersebut berbuah manis dengan pujian yang diberikan para kafilah lainnya. Para peserta dinilai berhasil memberikan yang terbaik pada para kafilah, mulai dari tempat penginapan dan pelayanana komsumsi yang diberikan. Bahkan, ada penilaian, pelaksanaan MTQ XXII di singkawang lebih baik dari pada pelaksanaan MTQ XXI di Kabupaten Kapus Hulu.

Untuk sukse yang lainnya, adalah kesukses dalam prestasi. Alhasi, wlaupun tidak mampu meraih juara umum, kota seribu kelenteng ini mampu menempati peringkat ketiga terbaik dari seluruh kabupaten dan kota yang ada di Kalimantan Barat. gelar-gelar terbaik satu yang dipersembahkan para peserta tersebut masing-masing diperoleh pada cabang tilawah golongan anak, terbaik satu golongan qir’atussabah putri, golongan terbaik satu cabang hifzil qur’an satu juz putra, terbaik putra putri cabang khatil quran golongan dekorasi.

Dengan pretasi yang dicapai tersebut Nadjib mengatakan, prestasi kafilah Kota Singkawang meningkat dibandingkan MTQ XXI yang berlangsung di Kabupaten Kapuas Hulu, tiga tahun yang lalu. Menurut Nadjib, ketika MTQ XXI di Kapuas Hulu hanya empat golongan yang diperlombakan diperoleh kafilah Singkawang.

Nadjib mengakatakan dengan prestasi yang diraih tersebut patut disyukuri, apalagi Singkawang merupakan kota yang baru. Sebagai Kota yang masih muda belia, prestasi yag diraih tersebut sudah angat baik.

Nadjib sadar, dalam setiap gawe besar pasti ada kekurangan. Dan ia mengaku sering rapat membahas apa saja yang menjadi kekurangan untuk diperbaiki. Misalnya, menyangkut konsumsi, fasilitas maupun transportasi.

”Alhamdulillah, semuanya bisa kita atasi dengan baik karena kerja sama dan koordinasi antarpanitia,” ujarnya kembali. (Mujidi, Borneo Tribune)

Bandar Perjuangkan Seribu Tahar Masuk Muri

Borneo Tribune, Penampilan tarian pektakuler seribu tahar pada malam pembukaan MTQ XXII di Kota Singkawang membuat takjub seluruh penonton yang hadir. Tarian dengan dengan melibatkan seribu penai itu membuktikan bahwa Kota singkawang mampu menciptakan kreasi seni yang tinggi untuk mempromusikan pariwisata di Kota Singkawang.

Selain bentuk tarian dengan pukulan tahar, tarian yang melibatkan pelajar se Kota Singkawang itu juga menggambarkan keanekaraman suku dan agama di Kota Singkawang. Karena banyaknya segi positif yang diberikan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Singkawang, Syech Bandar tetap bertekad memperjuangkannya masuk dalam muri.

”Karena pertunjukkan seribu tahan tersebut sangat spektakuler, maka kita akan tetap bertekad untuk memperjuangkannya dalam muri,” kata bandar mengatakan.
Tekad Bandar itu dikarenakan, selama seengetahuannya, hingga saat ini belum ada satu daerahpun di Indonesia yang menampilkan pertunjukan seni thir dengan permainan seribu tahar. Yang adanya permainan rabbana.

”Kita lihat dulu rabbana itu sama tau tidak dengan tahar, kalau tidak sama, saya yakin petunjukkan yang kita suguhkan akan masuk muri,” kata Bandar dengan penuh keyakinan. (Mujid, Borneo Tribune)

31 Mei 2008

Gubernur Tutup MTQ XXII

* Pontianak Juara Umum, Landak Tuan Rumah MTQ XXIII

Borneo Tribune, Seperti diawal pembukaan MTQ seminggu yang lalu yang dipadati ratusan masyarakat, kali ini juga, acara penutupan yang langsung dihadiri Gubernur Kalbar Drs. Cornelis,MH juga di penuhi ratusan warga. Detuman kembang api semakin memeriahkan acara penutupan. Padahal sebelumnya Kota Singkawang diguyur hujan tak menyurutkan semangat masyarakat kota Singkawang.

Rentak tari seni budaya NKRI yang disajikan 330 penari dari 13 kabupaten kota juga memeriahkan acara penutupan, ratusan orang yang sedari tadi duduk-duduk ditribune penonton bergegas mendekati lapangan, mereka ingin menyaksikan lebih dekat tarian itu, tak peduli jalan basah mereka tetap memaksa mendekati lapangan.

Gubernur Kalbar, Drs. Cornelis, MH memberikan apresiasi tersediri penyelenggaraan MTQ XXII di Singkawang, menurutnya ini merupakan penyeelenggaraan tersukses yang pernah ia saksikan. “Saya harap daerah bisa meniru Singkawang dalam penyelenggaraan MTQ terutama untuk Kabupaten Landak,”jelasnya.

Pada kesempatan itu juga Gubernur berjanji akan memberikan uang pembinaan senilai Rp2 juta untuk setiap juara satu semua golongan cabang MTQ yang diperlombakan, gubernur juga memberikan bantuan sebuah motor kepada LPTQ Kab. Landak yang akan dipergunakan untuk operasional.

Sesuai prediksi sebelumnya Kota Pontianak menjadi juara umum untuk ketiga kalinya. Walokota Pontianak yang menerima langsung piala berucap syukur, karena Kota yang dia pimpin mampu mempertahankan gelar yang cukup berat ini.

Sesuai dengan peringkat yang ditetapkan dewan hakim, Kota Pontianak mengumpulkan nilai 61, dengan menyisihkan kabupaten lainnya. Untuk peringkat kedua dirah Kabupaten Pontianak dengan nilai 52, Kota Singkawang selaku tuan rumah duduk di peringkat ketiga dengan nilai 31, Kabupaten Sanggau dengan nilai 28 di peringkat empat, Kabupaten Kubu Raya dengan nilai 23 diperingkat kelima, Kabupaten Landak dengan nilai 19, dan Kabupaten Bengkayang dengan nilai 12.

Kemudian sesuai dengan keputusan dewan hakim, Kota Pontianak meraih terbaik satu pada cabang golongan tartil quran untuk putri, tartil golongan anak-anak putri, golongan remaja terbaik putri, golongan qiraatusaba’ putra, golongan qira’atusab’a putrid, golongan lima juz putra, golongan sepuluh juz putra, golongan tiga puluh juz putra, fahmil qur’an.

Untuk Kabupaten Pontianak memperoleh terbaik satu pada golongan tartil, terbaik satu cabang tartil golongan remaja, terbaik satu putrid cabang hifzil quran satu juz ma’at tilawah, terbaik satu golongan lima juz putri, terbaik satu golongan sepuluh juz putri, terbaik satu golongan dua puluh juz putra, terbaik satu regu syrhil quran, terbaik satu khattil quran golongan naskah putra dan putri.

Kota Singkawang meraih terbaik satu pada cabang tilawah golongan anak, terbaik satu golongan qir’atussabah putrid, golongan terbaik satu cabang hifzil qur’an satu juz putra, terbaik putra putri cabang khatil quran golongan dekorasi. Sebagai terbaik empat, Sanggau meraih terbaik satu pada cabang tilawah golongan dewasa putri, terbaik satu putra putri cabang khatil qur’an golongan hiasan mushaf, dan untuk yang lainnya bereda diposisi dua tiga, empat, hingga enam.

Sementara Kubu Raya sebagai pendatang baru meraih terbaik kelima, namun kabupaten ini sama sekali tidak dapat mendudukan pesertanya yang mengikut pada terbaik pertama. Namun untuk terbaik kedua kabupaten pecakan Kabupaten Pontianak ini merah terbaik dua pada cabang tilawah golongan anak, terbaik kedua golongan remaja putri tilawah, terbaik kedua golongan qura’tussabah putri, cabang tilawah golongan cacat netra putri, terbaik dua cabang fahmil qur’an, terbaik kedua golongan khattil qura’an mushaf putri.

Kabupaten Landak yang menjadi terbaik enam dan akan menjadi tuan rumah MTQ XXIII berhasiul mendudukan pesertanya dari cabang tilawah golongan dewasa putra menjadi terbaik pertama, terbaik pertama cabang cacat nerta putra. Sementara Kabuoaten Bengkayang sebagai terbaik ke tujuh dapat mendudukan pesertanya pada terbaiuk pertama di cabang tilawah golongan cacat netra putri. Untuk yang lainnya hanya meraih pada posisi terbaik kedua, ketiga, keempat, kelima, dan keenam.

Pada malam itu Walikota Singkawang Hasan Karman kembali menegaskan janjinya untuk menaikkan haji bagi peserta yang meraih juara satu tilawah deawasa putrid-putri. Katanya Pemerintah Kota Singkawang menyediakan hadih beruapa ongkos naik haji dengan nilai 35 juta. Ongkos itu diperolah dari para donasi. Selain itu sebagai wujud penghargaan lainnya, Pemerintah Kota Singkawang menyediakan hadiah tambahan bagi juara harapan dua dan tiga , masing-masing sebesar lima ratus dan tigatus ribu rupiah. Secara keseluruhan, total hadiah yang dikeluarkan berjumlah Rp. 94.500.000.

“Mudah-mudahan hadiah tambahan ini bermanfaat, dan kami ucapkan selamat jalan, semoga selamat sampai pada tujuan,” doa Hasan Karman. (Mujidi/Sugeng, Borneo Tribune)

Kafilah Kunjungi Tiga Lokasi Pariwisata

Borneo Tribune, Untuk mengihilangkan rasa jenuh selama mengikuti rangkaian pertandingan pada MTQ XXII Provinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang, Sabtu (31/5) kemarin para kafilah diberikan kesempatan untuk mengunjungi tiga tempat pariwisata yang telah direkomendasikan. Tempat-tempat itu diantaranya, Taman Bukit Bougenvile, Pasir Panjang, dan Island Park.

Agar perjalanan pariwisata tersebut berjalan rapi, maka para kafilah dituntun dari lokasi yang satu ke lokasi yang lainnya. Untuk langkah pertama kunjungan yang dimulai sekitar pukul delapan tersebut diawali dengan mengunjungi taman bukit bougenvil Kota Singkawang. Menurut salah seorang pantia, tempat tersebut dituju karena sebagai cerminan taman di Kota Singkawang dan Kalimantan Barat.


Taman tersebut mempunyai potensi besar untuk membangun Pariwisata Kota Singkawang. Sebagai taman bunga, bougenvile sendiri punya semboyan, belum sampai ke Kota Singkawang bila tidak berkunjung ke taman bougenvil. Dengan dijadikannya taman bougenvil sebagai tempat tujuan para kafilah tersebut disambut baik oleh sang pemilik, Darminto.


”Dengan kunjungan para kafilah ini akan menambah pemasukan untuk taman kita,” kata Darminto saat ditemui di tamannya kemarin. Selain itu, yang tidak kalah penting dari kunjungan para kafilah tersebut, diharapkan dapat mempromusikan taman bukit bougenvil. Dan kata Darminto tentunya diharapkan para pengunjung tersebut suatu saat dapat kembali lagi ke Kota Singkawang dengan membawa sanak keluarga terdekat.


Setelah lebih dari satu jam, rombongan yang menggunakan puluhan mobil tersebut menuju ke taman pasir panjang. Di taman ini para kafilah dimanjakan dengan permandangan indahnya pantai, dan luasnya laut. Di tempat ini, para kafilah disuguhkan makan siang yang telah disiapkan panitia komsumsi. Kafilah juga diberikan kesempatan untuk salah zduhur.


Setelah makan siang dan salat usai dilaksaakan, dengan tuntuan para pantia, para kafilah kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka akan mengunjungi taman Islan Park, atau yang lebih dikenal dengan Teluk Majantu.


Dengan adanya program tamasya tersebut, rombongan kafilah Kabupaten Pontianak merasa gembira dan senang. Karena dapat menghilangkan rasa lelah selama mengikuti beragam perlombaan selama MTQ dilaksanakan.


”Pelayanan diberikan panitia sangat luar biasa, dengan kunjungan bersama ini selain mempererat silaturrahmi sesama kafilah, dan sangat menghibur sekali,” ungkap salah satu official asal Kabupaten Pontianak, Ahmad Pagi. (Mujidi, Borneo Tribune)

Layani Komsumsi Kafilah, Belasan Katering Dilibatkan

Borneo Tribune, Suksesnya pelaksanaan MTQ di Kota Singkawang termasuk didalamnya dalam pengadaan komsumsi tidak terlepas dari partisipasi catering yang ada di Kota Singkawang. Bukan hanya satu, dua, atau pun tiga, jumlah penyaji makanan tersebut mencapai belasan kelompok. Demikian diungkapkan Ketua PKK Kota Singkawang, Ny. Emma Hasan Karman, saat ditemui di taman pasir panjang, Sabtu (31/05) kemarin. Ia mengiringi seluruh kafilah dari kabupaten dan kota dalam rekreasi yng dirancang pantia.

”Dengan bantuan para katering tersebut, beban panitia teringankan. Terlebih para katering mau bekerja secara maksimal,” kata Emma menambahkan. Ia didampingi ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kota Singkawang Ny. Sulha Edy R. Yacoub.


Menurut Emma, selama mempersiapkan konsumsi, pihaknya tidak mendapatkan hambatan yang begitu berati. Para kafilah tidah pernah menyatakan rasa keberatan dengan makanan-makanan yang disajikan para katering tersebut. Tidak adanya keluhan dari para kafilah itu dikarenakan daya kerja yang dilakukan para katering begitu maksimal. Katering selalu menyajikan makanan yang berveriasi dalam satu hari.


”Walau anggaran untuk konsumsi sangat kecil, para katering tersebut dapat memenejnya dengan baik. Hal itu dapat dilihat berveriasinya makanan yang disajikan untuk para kafilah,” kata Emma.


Selain itu, Emma memandang suksesnya pantia bidang konsumsi dikarenakan rasa persatuan antara ibu-ibu, terutama ibu-ibu kepala dinas cukuplah tinggi. Mereka mau berkerja semaksimal mungkin demi lancarnya pelaksanaan MYQ XXII di Kota Singkawang.


Terkait dengan kualitas sehat atau tidaknya makanan yang dikomsumsi dan disuguhkan pada para kafilah, menurut Emma, pihak panitia bidang kesehatan melakukan pengetesan sebelum makan itu disajikan. Tese tersebut dimaksudkan untuk menjaga kesehatan para peserta selama pelaksanaan MTQ ke XXII.


”Kita tidak menginginkan para peserta ada yang sakit karena menkonsumsi makanan yang kita suguhkan,” terang Emma.


Bukan hanya melakukan kontrol pada makanan, Emma Hasan Karma kerap kali mengunjungi para kafila dimana mereka menginap. Tujuan Emma itu tidak lain tidak bukan untuk mempertanyakan bagaimana kondisi kesehatan. Dengan cara seperti itu, Emma akan mendapatkan informasi yang buruk dan baik dari para peserta.


Apa yang dikatakan Emma dibenarkan Sulha, lebih khsusus wanita berkerudung ini memberikan apresiasi terhadap kinerja para katering. Walau dengan rasa lelah, para katering tersebut tidak mengeluh dengan pekerjaan yang telah diembankan pada mereka. Yang tidak kalah penting, kerja katering tersebut merupakan bentuk amal demi pelaksanaan MTQ XXII di Kota Singkawang. (Mujidi, Borneo Tribune)

30 Mei 2008

Tablig Akbar MTQ XXII


*Said Agil Siradj: Pentinganya Kerukunan Hidup Beragama

Borneo Tribune,
tidak hanya untuk menghidupkan syiar agama islam di Kalimantan Barat, akan tetapi pelaksanaan MTQ XXII di Kota Singkawang juga sebagai moment untuk memupuk kerukunan dalam umat bergama. Pembinaan kerukunan umat itu diperlukan karena Kalimantan Barat, khususnya Kota Singkawang bercirikan hidup yang plural. Wilyah yang tidak hanya didiami satu suku, namun bergam suku. Daerah yang tidah hanya dimiliki satu agama, akan tetapi bergam agama.

Karena pentingnya pembangunan dan pembinaan kerukuna tersebut, maka pada Kamis (29/5) malam kemarin, panitia menghadirkan salah seorang kiai yang didatang dari Jakarta. Ia dalah KH. Prof. Dr. Saud Agil Siradj. Kedatangannya bertujuan untuk untuk mengisi tablig akbar yang telah dirancang oleh pantia.

Bukan di ruangan tertutup, tabliq akbar yang dimulai setelah final tilawah qiraat tersebut digelar di lapangan terbuka Kridasana Kota Singkawang. Kedatangan Siradj disambut ratusan, bahkan ribuan masyarakat. Dengan beragam warnah pakian, putih, hitam, dan lainnya, masyarakat tersebut berduyun-duyun datang, mulai selesainya salat magrib. Mereka mengisi tempat duduk di tribune, dan ratusan diantara mereka juga ada yang duduk dan berdiri di lapangan, berhadapan langsung dengan mimbar utama tempat berdirinya penceramah.

Sebelum Said tampil memberikan tausiah, Wakil Walikota Singkawang, Edy R. Yacoub tampil memberikan pengantar. Ia mengatakan, Singkawang merupakan kota yang plural. Kota yang lebih memiliki keragama dibandingan dengan kota taupun kabupaten lain. Kota tersebut diisi belasan bahkan puluhan etnis, serta juga disi beragam umat beragama. Namun sebagai kota dengan beragam keragaman tersebut, Kota Singkawang meruapakan daerah yang aman, dan jauh dari komplik antar agama, ataupun etnis yang berkepanjangan.

Keragaman yang dimiliki Kota Singkawang menjadi pijakan awal bagi Said Agil Sirad menyampaikan tausiah. Menurut tokoh NU ini, keberagaman tersebut merupakan kekayaan dan harus dijaga. Dengan kata lain jangan sampai, dengan keragaman tersebut terjadi perpecahan yang selanjutnya berdampak pada kerukunan sesama. Perbedaan suku, agama, dan budaya bukan dasar untuk terjadinya perpecahan. Akan tetapi kebergaman tersebut merupakan aset yang kaya untuk membangun suatu bangsa.
Sebagai contoh, Nabi Muhammad meruapkan sosok pemimpin yang selalu menghargai perbedaan. Muhamad tidak akan megusir bahkan memusuhi orang kafir yang tidak memusuhi orang islam. Selain itu, Muhammad juga tidak pernah meminta pada orang Islam untuk memusuhi orang kafir yang tidak bermusuhan dengan islam. Bahkan kata Said, disebutkan dalam satu riwayat, salah seorang tentara Islam pernah dibunuh kisas karena telah membunuh orang kafir yang tidak memusuhi islam.

”Karena bercermin dari sikap Muhammad tersebut, warga di Kota Singkwang harus tetap rukun dalam membina kehidupan,” tambah Said.

Pentingnya hidup rukun juga diungkapkan dalam kita suci agam Islam, Al-quran. Ini terbukti dengan pembahasan pentinganya hidup bersosial lebih banyak dibahas dibanding dengan pembahasan yang terkait dengan aqidah atau ketauhidan. Bila dihitung dengan persentasi, sekitar sembilan puluh lima persen ayat-ayat dalam aquran berbicara tentang kehidupan sosial, dan hanya sekitar lima persen yang hanya berbicara tentang ketauhidan.

”Dengan pembahasan dalam alquran tersebut menandakan bahwa kerukunan dalam kehidupan sosial harus diutamakan,” kata Siradj (Mjidi, Borneo Tribune)

Tuan Rumah Kota Singkawang Dipuji

Borneo Tribune, walaupun penutupan pelaksanaan MTQ XXII Provinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang baru akan dilakukan pada malam ini, namun beberapa pihak telah memberikan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan Kota Singkawang sebagai tuan rumah sangat baik dan sukses. Selanjutnya, semua pelayanan yang diberikan tersebut bisa menjadi contoh bagi kabupaten atau kota yang akan menjadi tuan rumah MTQ XXIII mendatang. Beberapa penilain tersebut diperoleh dari beberapa kafilah kabupaten dan kota lainnya di Kalimantan Barat.

Para kafilah tersebut merasa pantas untuk memberikan pujian dikarenakn pelayanan yang diberikan Kota Singkawang sebagai tuan rumah sangat maksimal. Mulai dari penginapan yang diberikan, kemanan, dan berbagai akomodasi lainnya. Hingga dengan pelayanan tersebut, para peserta dari kafilah merasa dihormati dan dihargai.

”Kami merasa berterimah kasih dan memandang apa yang diberikan para pantia khususnya Kota Singkawang sebagai tuan rumah sagat baik dan maksimal,” demikian dikatakan Sekretaris LPTQ Kabupaten Kubu Raya, Jakariansyah saat ditemui di lokasi penginapannya beberpa hari lalu.

Menurut Jakariansyah, pelayanan maksimal yang diberikan tuan rumah tersebut terlaksana karena beragam fasilitas yang dimiliki sangat lengkap. Mulai dari lokasi perlombaan hingga, tempat penginapan.

”Hotel sangat banyak, hal itulah yang membuat Kota Singkawang lebih dari kabupaten lainny. Selain itu Kota Singkawang juga mempunyai pantai dan keindahan alam yang juga belum tentu dimiliki oleh daerah lainnya,” kata Jakariansyah menambahkan.

Di lokasi yang terpisah, ketua Kafilah Kabupaten Kayong Utara, Abdul Malik Majri juga menyatakan rasa simpatik kafilahnya terhadap pelayanan yang diberikan Kota Singkawang sebagai panitia yang juga merangkap sebagai tuna rumah. Sama dengan Jakaria, Majri mengatakan kafilah yang dipimpinya merasa terpuaskan dengan pelayanan yang telah diberikan.

”Dalam hal ini Kota Singkawang dapat dijadikan contoh oleh kota ataupun kabupaten lain yang akan berniat untuk menjadi tuan tumah MTQ XXIII pada tiga tahun yang akan datang,” jelas Majri.

Karena pelayanan tersebut, Majri atas nama kafilanya merasa berterima kasih pada tuan rumah. Sehingga dengan pelayanan yang diberikan, para kafilah merasa sangat terbantu, dan mendapatkan kemudahan-kemudahan selama mulai dari kedatangan kafilah hingga MTQ dilaksanakan. (Mujidi, Borneo Tribune)

Kal-Bar Perlu Pondok Tafsir

Borneo Tribune, Dalam pelombaan MTQ XXII Provinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang terpaksa untuk tidak memperlombakan cabang tafsir. Dikarenakan keterbatasan sumberdaya manusia yang dimiliki Kalimantan Barat. Demikian dikatakan, Ketua Harian LPTQ Provinsi Kalimantan Barat, Sabhan A. Rasyid, saat ditemui di GOR Bantilan Kota Singkawang, beberapa hari yang lalu.

”Ketiadaan sumberdaya di bidag tafsir tersebut dikarenakan Kalimantan Barat tidak mempunyai tempat untuk pembinaan,” kata Rasyid menjelaskan.

Karena tidak adanya tempat untuk pembinaan, Rasyid menilai Kalimantan Barat perlu membangun pondok khusus untuk mengahsilkan mufasir-mufasirah di Kalimantan Barat. Namun untuk membangun pondok tersebut, tentunya kan terbentur dengan minimnya dana yang dimiliki.

Karena tidak adanya pondok untuk tafsir di Kalimantan Barat, bibit-bibit atau mufasir tersebut banyak tumbuh dan berkembang saat menimbah dunia pendidikan di luar Kalimantan Barat, terutama di Jawa.

”Mereka yang berlajar keluar itu yang kita harapkan,” tambah Sabhan kembali. Sabhan memperkirakan, apabila pembinaan tafsir tersebut tidak dilakukan, maka Kalimantan Barat tidak akan pernah ada orang-orang yang pandai tafsir yang lahir dari Kalimanatan Barat. Hingga selalu mengharapakan mereka yang belajar di luar Kalbar. (Mujidi, Borneo Tribune)

Tampil Pertama Kali, Prestasi KKR Membanggakan

Borneo Tribune, Sebagai pendatangan baru, perestasi yang dicapai Kabupaten Kubu Raya sangat membanggakan. Hal ini dikarenakan mampu melolosakan sebelas pesertanya dalam final masing-masing cabang yang diperlombakan pada MTQ XXII di Kota Singkawang.

Peserta yang masuk finas tersebut diantaranya, pada cabang tilawah tartil putri putra atas nama Ega, Muhammad Rizal pada tilawah anak-anak putra, Umar Hariyaksa pada tilawah remja putri, Siti Chotijah pada hhat mushaf putri, Eka Wahyuni pada tilawah qiraat putri, Sumiyati, tilawah cacat netra putri dan putra atas nama Manati dan Ayub Aman Alanshori, tahfiz sepuluh juz putri, Siti Marwah, tahfizh dua puluh juz, samsul arifin, dan fahmil qur’an yang telah memastikan diri meraih juara dua.

”Dengan prestasi tersebut kami, sebagai bagian dari kafilah Kubu Raya dan masyarakat Kubu Raya sangat berbangga. Karena walau baru pertama kali ikut dalam MTQ tingkat provinsi, kai telah mampu bersaing dengan kabupaten dan kota lainnya,” demikian dikatakan Sekretasi LPTQ Kabupaten Kubu Raya, Jakariansyah, didampingi Ismail Karim sebagai ofesial bidang khat putri, dan Drs. Japridin selaku koordinator stan KKR saat jumpa pers bersama wartawan, kemarin.

Jakriaya menambahkan, hasil dari para peserta tersebut tidak terlepas dari bantuan dan dorongan yang diberikan masyarakat Kubu Raya. Yang dengan suka rela memberikan dana bantuan untuk kafilah dengan tujuan agar dapat membawa nama baik KKR.

Untuk bidang stand, Japridin mengatakan, keikutsertaan KKR kali ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan pada masyarakat tentang jati diri KKR. Bahwa sebagai kabupaten baru KKR telah eksis. Karena sosialisasi tersebut, pada pameran yang dilakukan, stand KKR menampilkan lambang KKR. Dan katanya lambang tersebut hasil dari sayembara dan baru akan diperdakan setelah anggota DPRD KKR terisi dan terbentuk.

Sementara itu Ismail Karim, dalam kesempatan tersebut mengucapakan terima kasih pada pantia yang telah memberikan pelayanan yang maksimal. Dan kerena pelayanan tersebut, semua peserta yang tegabung dalam akfilah KKR mendapat kemudahan dalam segala hal. (Mujidi, Borneo Tribune)

29 Mei 2008

Walau Tidak ke Final, KKU Terpuaskan

Borneo Tribune, Sesuai dengan pengumuman yang disampaikan dewan hakim, tidak satupun peserta dari kafilah Kabupaten Kayong Utara yang mampu menembus final pada masing-masing cabang yang diperlombakan. Namun hal tersebut tidak membuat kafilah ini berkecil hati, dan tetap bersemangat dan merasa puas dengan hasil yang telah diperoleh.

”Walau tidak satupun cabang yang membawa kami ke final, kami merasa sangat puas. Dan ini sebagai pembelajaran terbaik bagi kami untuk MTQ yang akan datang,” demikian dikatakan ketua Kafilah Kabupaten Kayong Utara (KKU), Abdulmalik Majri, saat ditemui di lokasi penginapan kafilah KKU, Kamis (29/5) kemarin.

Selain itu, Majri juga mengatakan, tidak adanya satu cabangpun yang diraih KKU tidak membuat kafilah KKU berlalu mendahului kafilah lainnya meninggalkan Kota Singkawang. Hl itu bertujuan agar para kafilah KKU belajar dan menimbah ilmu. Karena dasar tersebut, kafilah dari kabupaten kedua termuda ini memutuskan untuk bertahan di Kota Singkawang hingga penutupan MTQ

”Dengan waktu yang ada, kita meminta pada peserta dari kita untuk menyaksikan perlomabaan itu, maksudnya sebagai pembelajaran,” kata Malik.

Selanjutnya, sebagai kabupten yang juga baru pertama kali ikut MTQ, kafilah Kayong Utara berjumlah lima puluh orang termasuk penjaga pameran, opesial, pelatih, dan para peserta. Khusus untuk peserta, KKU mengutuskan enam belas orang untuk memperebuatkan di lima cabang, tilawah, tartil, khat, fahmil, dan syarhil. (Mujidi, Borneo Tribune)


Kemenangan Fahmil Hadiah Pertama Untuk Pontianak

*Kubu Raya Juara Dua

Borneo Tribune, Peserta cabang fahmil dari Kota Pontianak menjadi pembuka juara bagi Kota Pontianak. Dengan mengungguli lawan lainnya yang datang dari Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, dan Kabupaten Melawi ini mampu merebut juara satu pada perlombaan beregu tersebut.

Pada hasil akhir, Kota Pontianak mengumpul nilai 925, Kubu Raya 775, Kabupaten Pontianak, 525, kemudian disusul Kabupaten Melawi dengan nilai yang dikumpulkan sebanyak 425 point. Kemenangan Kontingen Kota Pontianak tersebut membuat pendukung Kota Pontianak bersukaria, termasuk ketua Kafilahnya, H. Aswani.

”Saya ikut berbangga dengan kemenangan yang diraih oleh peserta kita, dan kemenagan ini merupakan gelar juara pertama yang disumbangkan untuk Kota Pontianak pada MTQ XXII saat ini,” kata Aswani saat ditemui usai pelaksanaan fahmil kemarin.

Selain itu, Aswani mengatakan kesuksesan yang dicapai peserta fahmil Kota Pontianak tidak terlepas dari sistem binaan yang diterapkan. Jauh-jauh hari sebelumnya para peserta tersebut mendapat gembelengan, bahkan pada saat akan tampil gemblengan terus dilakukan. Alhasil, dari gemblengan yang dilakukan tersebut peserta Kota Pontianak tampil sebagai yang terbaik.

Selain Kota Pontianak, kafilah Kubu Raya juga turut berbangga. Walau sebagai pendatang baru, peserta dari pecahn kabupaten Pontianak mampu tampil sebagai yang yang terbaik dan meraih nomor dua. Mereka kalah pada dua pertannyaan terakhir pada sisi soal rebutan. Padahal, pada soal sebelumnya Kubu Raya mampu unggul dengan selisi poin lima puluh dari Kota Pontianak.

”Walaupun kami sebagai nomor dua, tapi kami terasa sangat bangga. Dan kami mampu membuktikan, bahwa sebagai pendatang baru kami pantas untuk diperhitungkan,” kata Sekretaris Umum LPTQ Kabupaten Kubu Raya, Jakariansyah, saat ditemui kemarin. (Mujidi, Borneo Tribune)

Rapi Dukung Kesuksesan MTQ

Borneo Tribune, Bukan hanya pihak kepolisian, perhubungan, Pol PP atau lembaga lainnya, kesuksesan MTQ XXII Provinsi Kalimantan Barat di Kota Singkawang juga didukung sepenuhnya oleh perkumpulan radio amatir pendudukan indonesia (Rapi). Organisasi di bawah naungan dinas perhubungan Kota Singkawang ini siap turun ke lapangan untuk membantu panitia mulai dari H-2 pembukaan MTQ hingga pelaksnaan MTQ usai.

”Kami berkeja tanpa mengenal waktu, dengan tenaga yang ada kami memberikan sesuatu yang terbaik demi lancarnya pelaksanaan MTQ di Kota Singkawang,” demikian dikatakan salah seorang anggota Rapi Kota Singkawang, Nurjanna, diadampingi rekannya, Nurasisi.

Sistem kerja Rapi sejenis dengan kepolisian, pihak perhubungan, ataupun Pol PP. Menjaring informasi terkait dengan segala aktitiftas yang belrngsung selama pelaksnaan MTQ, lebih khusus aktifitas tersebut terkait dengan masing-masing kafilah dari kabupaten dan kota. Dengan jaringan informasi tersebut, Rapi juga berperan untuk melancarkan mobilsasi kafilah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Menurut Nurjannah, selama aktifitas MTQ berlangsung dalam satu hari Rapi mengefektifkan lebih dari dua puluh anggotanya. Anggota-anggota itu diperankan untuk menjaga titik-titik tempat terkonsentrasikan pelakanaan MTQ. Tempat-tempat pelaksanaan MTQ itu diantaranya gedung Kridasana, Gedung Pancasila, GOR Bantilan, Gedung Arafah, Masjid dan Aula Ushuluddin.

”Semu titik itu kami jaga setiap waktu, segala perkembangan kami infromasikan bersama,” kata Nurjanna menjelaskan.

Selain lokasi-lokasi pelaksanaan MTQ, masih banyak titik-titk yang dijaga Rapi. Termasuk diantaranya hotel-hotel yang dipergunakan kafilah untuk menginap. (Mujidi, Borneo Tribune)

Kota Pontianak Berpeluang Raih Juara Umum

Borneo Tribune, Sesuai hasil yang diumumkan para dewan hakim, kafilah Kota Pontianak dipredeksi berpeluang besar untuk meraih juara umum untuk kali ketiga pada pelaksanaan MTQ di Kota Singkawang. Hal ini dikarenakan, hampir di keseluruhan cabang, Kota Pontianak berhasil membawa masing-masing pesertanya masuk ke dalam final.
Dari hasil tersebut Kota Pontianak berhasil mengantarkan finalisnya pada 20 golongan, disusul Kabupaten Pontianak sebanyak 12 golongan dan Kubu Raya masing-masing berjumlah 10 golongan. Sementara kafilah tuan rumah, Kota Singkawang berada diurutan keempat dengan jumlah finalis sebanyak 9 golongan.

Sementara Kabupaten sanggau, Landak dan Kabupaten Bengkayang berhasil mengantarkan finalisnya masing-masing sebanyak 8, 7 dan 4 golongan. Kabupaten Sambas sebanyak 3 peserta, Ketapang dan Melawi masing-masing berjumlah 2 golongan. Kabupaten Sintang, Sekadau, dan Kapuas hulu masing-masing sebanyak 1 golongan.

Sedangkan kafilah yang tidak masuk dalam babak final yakni kabupaten Kayong Utara. Sesuai dengan agenda panitia sebagian besar cabang dan golongan babak final dilaksanakan pada Kamis (29/5) kecuali cabang tilawah golongan dewasa, yang akan dilaksanakan Jum’at 30 mei 2008.
golngan-golongan tersebut terbagi dalam lima cabang, tilawah, tahfizh, khattil, syarhil. Sementara untuk fahmil qur'an, Kota Pontianak memastikan merebut juara satu setelah menyisihkan Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Melawi pada babak final ayng digelar diGOR bantilan, Kamis kemarin. Jumlah golongan yang diutus masing-masing daerah tersebut dapat berubah, karena masih ada beberpa cabang yang belum diumumkan(Mujidi, Borneo Tribune)

28 Mei 2008

Rp400 Ribu per Hari Pemasukan Stand Pameran MTQ

Borneo Tribune, Empat hari setelah dibuka, beberapa stand pameran dari 14 daerah peserta MTQ XXII tanpak kehabisan stok, rata-rata jenis makanan yang terjual laris, dan tentunya itu sangat membantu pendapatan mereka.

Stand LPTQ saja yang hanya memamerkan media ajar baca tulis Al Qur’an bisa meraup keuntungan sekitar Rp400 ribu perharinya, dan hal ini diakui humas LPTQ Kalbar Ramli. Dan kemungkinan besar bisa mendapatkan lebih selama MTQ berlangsung.

Beberapa stand juga mengungkapkan hal yang sama, seperti Stand Kubu Raya, Bengkayang, Ketapang. Mereka rata-rata mengaku selama empat hari ini, bisa mendapatkan hasil sekitar Rp300 ribu hingga Rp450 ribu. “Orang banyak beli makanan jak, yang lain dilihat saja,”kata penjaga yang namanya tak mau disebutkan.

Barang yang lainnya rata-rata penjaga stand mengakui kalau dalam satu hari bisa terjual satu dua buah saja, ini lebih dikarenakan banyak pengujung semata menikmati MTQ kali ini juga pengunjung benar-benar mencari sesuatu yang khas dari daerah tersebut.
Pameran MTQ sendiri akan mulai ramai menjelang malam tiba, sementara siang harinya dipastikan hanya satu dua pengujung yang Datang. (Mujidi & Sugeng, Borneo Tribune)

Pelajar Serbu GOR Bantilan

Borneo Tribune, Puluhan pelajar menggunakan dua mobil pickup sekitar pukul 09.00 WIB Rabu (28/5) mendatangi GOR Bantilan Singkawang, mereka siap memberikan dukungan penuh kepada tiga kafilah Singkawang yang siap bertanding di cabang fahmil Qur’an.

Dengan tertib mereka memasuki gedung olah raga itu, disana telah menunggu wakil walikota Singkawang Edy R Yacoub dan ketua kafilah tuan rumah, Najib. Para pelajar itu pun mengambil posisi disebelah kanan pintu masuk tepatnya dibelakang dua orang pejabat itu. Tepuk tangan terus bergemuruh setiap kali kalifah Singkawang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan majelis hakim.

Pertarungan fahmil Qur’an Singkawang dan Kabupaten Pontianak memang cukup seru hingga akhir kabupaten Pontianak mampu mengungguli Singkawang dengan selisih hanya 25 point. Meski kalah, pelajar yang berasal dari dua sekolah, Ponpes Usuhuluddin dan MAN Model Singkawang tetap memberikan dukungannya,
“Meskipun kalah kami tetap dukung Singkawang.”jelas Sa’diah (16) yang diamini semua teman-temannya.

Mereka pun dengan tertib meninggalkan gedung olahraga kebanggan Singkawang dengan membawa asa yang tak kesampaian, meskipun begitu pelajar ini berharap banyak kafilah-kafilah yang lain dapat memberikan hasil yang terbaik untuk Singkawang. (Sugeng & Mujidi, Borneo Tribune)

Fahmil Qur’an Tuan Rumah Kandas Dipenyisihan


Borneo Tribune, Meskipun terhenti di babak penyisihan cabang Fahmil Qura’an. Kafilah Kota Singkawang tetap berbangga hati, mereka mampu memberikan perlawanan yang akhirnya dikandaskan Kabupaten Pontianak. Kabupaten Pontianak sendiri memastikan diri ke final yang nantinya telah menunggu Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Melawi.

Dua hari berlangsung cabang fahmil Qur’an. GOR Bantilan tanpak sepi hanya pendukung kafilah bertanding memberikan dukungan. Namun Rabu (28/5) kafilah Kota Singkawang bertanding, GOR Bantilan nampak penuh, puluhan pelajar sengaja datang memberikan dukungan, antusias mereka jelas sekali, beberapi kali Singkawang mendapatkan point gemuruh tepuk tangan terdengar jelas. Sayang dukung yang diberikan belum mampu mengantarkan Singkawang ke final.

Ketua Kafilah Kota Singkawang, Najib bisa menerima kekalahan ini, menurutnya Singkawang telah maksimal meskipun hasilnya tak memuaskan. “Meski ini tak masuk final, enam cabang lainnya kita menepatkan kafila di final,”jelas Najib nyakin.

“Kita tetap optimis Singkawang bisa meraih juara, meski itu perlu perjuangan,”tuturnya. Dia juga berharap masyarakat Singkawang bisa memberikan doa restunya untuk kemenangan kafilah yang sedang bersaing saat ini.

Sri Wanti Islamiyah (17) salah satu peserta famil qur’an dari Singkawang mengaku sudah berjuang maksimal, namun soal yang diberikan diluar kemampuan mereka sehingga tak mampu menjawabnya. “Soal kebanyakan untuk anak kuliahan makanya kami susah jawabnya,”katanya. Meski tak masuk final mereka tetap mendapat sambutan hangat dari pendukungnya (Mujidi & Sugeng MulyonoBorneo Tribune)

Edy Tinjau Penyisihan Fahmil Qur’an

*Kota Singkawang Gagal Mengutus Pesertanya ke Final

Borneo Tribune, Disela-sela kesibukannya, Wakil Walikota Singkawang, Edy R. Yacoub berkenan untuk meninjau langsung pelaksanaan penyisihan fahmil qur’an di GOR Bantilan Kota Singkawang. Edy juga memberikan support kepada seluruh peserta yang berlomba, tidak terkecuali untuk peserta yang berasal dari Kota Singkawang. Namun sayang, dalam penyisihan tersebut peserta Kota Singkawang gagal maju ke final dan harus mengakui keunggulan peserta lainnya.

Dalam penyisihan, Kota Singkawang bertemu dengan peserta dari kabupaten Ketapang dan Kabupaten Pontianak, yang kemudian dimenangkan oleh Kabupaten Pontianak dengan poin 675 point yang dikumpulkan. Kabupaten Pontianak maju kefinal yang aka digelar pada hari ini (Kamis, red). Menhadapi peserta dari Kabupaten Kubu Raya, Kota Pontianak, dan Kabupaten Melawi, yang telah lolos pada penyisihan group lainnya.

Walaupun Kota Singkawang kalah dalam fahmil qur’an tersebut, Edy saat ditemui merasa bangga dan puas atas upaya yang dilakukan oleh peserta Singkawang. hal ini dikarenakan mereka mampu menjawab soal-soal yang dilontarkan dewan hakim. Padahal soal tersebut mempunyai bobot soal yang cukup berat.

“Mereka sudah berbuat yang maksimal, mereka menunjukkan bisa menjawab sebagian soal yang dipertanyakan, untuk itu saya sangat bangga” kata Edy menegaskan.

Kekuatan para peserta dari Kabupaten lain juga diaku salah seorang fahmil quar’an dari Kota Singkawang. Namun mereka tidak berputus asa, karena usaha yang mereka lakukan telah begitu maksimal. (Mujidi, Borneo Tribune)

10 Kabupaten dan Kota Ikuti Tilawah Cacat Netra

Borneo Tribune, Cabang tilawah golongan cacat netra mulai diperlombakan, 15 kafilah yang ambil bagian dipastikan bertarung untuk mendapatkan tempat yang terbaik, meskipun kekurangan mereka bisa menunjukan bahwa mereka mampu membaca Al Qur’an dengan baik layaknya orang normal.

Kota Pontianak sendiri menurunkan dua pasanganya, Sulastri (28) dan Febriandi (18) keduanya berjanji memberikan terbaik buat Kota Pontianak. “Kita akan berjuang semaksimal mungkin, kalau perlu juara,”jelas Sulastri yang diamini Febriandi.
Meskipun keduanya tak punya target sendiri, namun membawa Kota Pontianak sebagai juara bertahan, membuat dua orang ini optmis mampu mendapatkan hasil terbaik.

Dua kafilah Kabupaten Ketapang Nana Heriana dan Ardiansyah Ahmadi juga mengungkap hal yang sama, mereka menyatakan siap memberikan terbaik untuk daerahnya. “Keputusan ditangan dewan hakim, kita terima saja hasilnya nanti,”jelasnya kedua orang ini. Mereka juga tetap optimis bisa meraih juara, meski persaingan berat

Beberapa orang yang menyaksikan pun memberikan pujian terhadap tilawah cacat netra ini. “Saya salut mereka mampu membuktikan orang cacat juga bisa berprestasi,”kata Irwan (42) yang sedari tadi antusian menyaksikan tilawah membacakan ayat-ayat Al Qur’an dari podium penononton.

Bahkan ada seorang ibu meneteskan air mata, karena tak sanggup melihat perjuangan berat kafilah cacat netra ini. “Saya teringat anak saya dirumah, kenapa yang normal malas membaca Al’Qur’an padahal mereka punya segalanya,”katanya lirih. Isah (52) nama ibu ini, dia juga memberikan aplaus terhadap mereka.

“Saya salut meskipun kekurangan mereka mampu mengoptimalkan kekurangannya,”katanya sambil mengusap air matanya. Dia berharap MTQ kali ini benar-benar menghasilkan kafilah-kafilah yang mampu menghantarkan Kalbar menjadi juara di MTQ nasional nantinya. 9Sugeng Mulyono-Mujidi, Borneo Tribune)